Rabu, 22 Januari 2020

Perjalananku


Disaat sang fajar mulai menyapa hariku,namun kali ini kulihat mentari mulai enggan menyambut perjalananku. Akankah aku sanggup menahan keasingan ini dari mentari hangat yang selama ini menjadi teman sejati dalam perjalananku? Atau lebih baik aku terdiam saja di sudut keputusasaan. Sesaat ku menunggu jawaban apa yang dikatakan sang mentari untukku. Ketika ku menapak melihatnya, alangkah senangnya diriku melihat ia tersenyum seakan sedang menggodaku. Bagaikan balita yang sedang tertawa karena dihibur orang tuanya. Akupun memulai perjalanan ini yang mungkin akan terasa panjang, karena aku akan menghabiskan waktuku dengan sang kekasih mentari. Cinta dan benci telah menyatu diterpa ombak dengan perasaan mesra. Itu lebih baik bagiku daripada aku melakukan perjalanan ini tanpa sang kekasih.
Ketika senja membalut perjalananku, sang mentari mulai beranjak pergi mengatakan kalimat terakhir untukku, agar tidak berhenti disuatu titik. Aku pun mengangguk tanda tak ingin mengecewakannya serta melanjutkan perjalanan yang kuanggap penuh makna ini. Setapak demi setapak ku tempuh dengan perasaan kalut karena ku tak tahu akan akhir dari perjalanan ini. Perasaanku menjadi semu dan bimbang untuk memutuskan meneruskan perjalanan ini atau berhenti menunggu perjalanan selanjutnya. Kemudian ku memutuskan untuk mencari ruang rinduku yang tengah diterpa kegelapan ini. Akupun menghabiskan sisa perjalanku untuk menemui-Nya. Kini ku hanya berdua, merasa damai dalam balutan kasih dan do’a yang kupanjatkan kepada Ruh abadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar